Selasa, 13 Maret 2012

RI Kembangkan Pengayaan Uranium


Yogyakarta, Padek—Nama In­donesia ternyata cukup di­per­hitungankan dalam indus­tri nuklir dunia. Hal itu berkat ino­vasi dari ahli nuklir UGM Yu­diutomo Imardjoko MSc PhD yang menemukan teknik pengayaan uranium tingkat ren­dah. Bahkan dalam pria yang kini menjabat sebagai di­rek­tur utama PT Batan Tek­no­logi (BatanTek) itu akan me­ngem­bangkan pabrik radio­iso­top yang sangat berguna bagi du­nia kesehatan modern.
Paparan tersebut menjadi ba­­gian dari presentasi Menteri BUMN Dahlan Iskan pada Pre­si­den RI Susilo Bambang Yu­dho­yono dalam Rakor BUMN di Rich Hotel Yogya (10/10) ke­ma­rin. Menurut Dahlan, pa­brik ra­dioisotop BatanTek itu akan menjadi satu satunya di dunia. Se­bab, teknologi selama ben­da yang dipakai untuk men­diagno­sa penyakit itu ha­nya dapat dihasilkan oleh proses pengayaan uranium tingkat tinggi.
“Padahal tahun depan dunia telah melarang pengayaan uranium tingkat tinggi, jadi Indonesia akan menjadi yang pertama,” ujarnya di depan Presiden dan ra­tusan pejabat BUMN. Dalam wak­tu dekat, industri high-tech itu akan dikembangkan di Indo­ne­sia dan membidik pasar Je­pang dan Tiongkok.
Selain itu, Kementerian BUMN juga telah menggagas ker­ja sama dengan pemerintah Amerika Serikat untuk mem­buat pabrik BatanTek di Virginia AS. Hal itu untuk membidik pa­sar Amerika yang merupakan peng­guna terbanyak dari radio­iso­top. “Karena tidak bisa diki­rim dari Indonesia. Terlalu jauh nan­ti radiasinya keburu hilang. Ja­di butuh pabrik di AS,” pa­parnya.
Dalam rapat yang dihadiri pe­jabat dari 101 BUMN itu, Dah­lan juga menyampaikan se­jum­lah capaian dan dan ren­cana stra­tegis untuk sejumlah perusa­haan BUMN. Seperti pe­ngem­ba­ngan subsektor per­tanian se­bagai bidang ekonomi stra­tegis, hingga revitalisasi sumur-sumur tua oleh Pertamina untuk me­nam­­bah ca­paian lifting mi­nyak me­n­tah. Me­nurutnya hal itu bisa ter­capai jika setiap perusahaan ber­­meta­mor­fosis menjadi loko­mo­tif per­tum­buhan yang bersih, efisien.
Untuk mencapai hal terse­but, pihaknya telah menge­lom­pok­kan BUMN ke dalam tiga ke­lom­pok besar, yakni BUMN se­ba­gai penja­ga ketahanan na­sio­nal, sebagai mesin pertumbuhan (enginee of growth),  dan kepe­lo­­poran dalam hal tekno­logi, da­ya saing, dan kesejahteraan, yang  di­harapkan mampu ber­saing se­cara inter­nasional. “Yang be­lum se­hat menyehatkan dulu, me­ta­mor­fosa atau dikuburkan saja,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Pre­si­den Susilo Bambang Yu­dho­yono juga memberi pengarahan un­tuk ratusan pejabat peru­sa­haan BUMN yang hadir di Yog­ya­karta. Menurutnya, peru­sa­ha­an pelat merah jangan ha­nya me­nunjukkan kualitasnya di da­lam negeri saja. “Jangan jadi macan kandang. Jadi world class company.Saya yakin banyak yang jadi perusahaan internasional. Akan makin banyak dan banyak lagi,” tegas SBY.
Presiden juga memberi apresiasi pada bintang BUMN yang meraih prestasi membanggakan. Menurutnya perusahaan yang telah unggul di level nasional harus bersaing di tingkat internasional. Menurut SBY, bukan mustahil untuk bisa menjadi perusahaan berskala internasional.
Presiden yang baru saja melantik Gubernur DIJ Sri Sultan HB X itu, meyakini perusahaan-perusahaan BUMN berpotensi menjadi calon bintang di masa mendatang. Namun, untuk menjadi bintang, perlu usaha dan kerja keras. Semua pihak menanti era kebangkitan beberapa perusahaan BUMN yang kini mati suri.
Presiden menegaskan, tidak ada pihak boleh menghambat kinerja perusahaan pelat merah. “Saya yakin akan ada bintang baru dan bagi yang belum saya gunakan istilah mati suri untuk bangkit dan maju. Kecuali kalau sudah menyerah apa boleh buat. Tidak boleh ada yang hambat gerak maju BUMN,” tegasnya.(leg/jpnn)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...